Jam Kerja Industri Konstruksi

Dalam bayangan kolektif pada umumnya, terdapat dua Eropa.Yang satu kawasan utara yang industrial dengan ekonomi yang sangat dinamis dan pengangguran yang relatif rendah. Satunya lagi kawasan selatan yang lesu, tempat orang-orang berhaha-hihi, menikmati espresso dan menonton saja dunia sekelilingnya.

Banyak orang akan mengidentikkan “selatan” Eropa dengan Perancis, negeri dengan 35 jam kerja per minggu, makan siang yang panjang dan hak cuti yang lebih lama lagi. Tapi siapa pun yang pernah bekerja sebagai profesional di negeri ini tahu tentang kenyataan sebaliknya.

Olivier, seorang pengacara senior di sebuah industri konstruksi multinasional Perancis di Paris (dia meminta nama keluarganya tidak disebutkan), menjelaskan kerjanya setiap pekan kepada saya. “Saya bekerja sekitar 45 hingga 50 jam seminggu, mulai sekitar 09:00 sampai 19:30,” katanya.

Jadi bagaimana dengan 35 jam kerja seminggu yang terkenal itu, yang merupakan kecemburuan dari banyak kaum profesional di negeri lain? Apakah itu hanya sekadar mitos?

Bertentangan dengan banyak pandangan selewatan, 35 jam itu “hanyalah ambang batas atas, yang sesudahnya mulai berlaku jam lembur, serta hari pengganti,” kata ekonom Perancis Jean-Marie Perbost.

Pekerja kerah biru diandaikan bekerja tepat 35 jam, namun jam kerja pekerja kerah putih (cadre dalam bahasa Perancis) setiap minggunya tak bisa ditentukan seperti itu.

Image captionPekerja di kawasan selatan Prancis lebih banyak berleha-leha?

Seperti juga profesional di Amerika Serikat, misalnya, sebagian besar cadrebekerja sampai pekerjaan benar-benar dituntaskan. Tapi tidak seperti di Amerika Serikat, profesional Perancis mendapatkan kompensasi jika bekerja di atas 35 jam, yang dirundingkan dengan perusahaan masing-masing (sepanjang tahun 2013, perusahaan-perusahaan Prancis rata-rata memberikan sembilan hari libur pengganti jam kerja).

Tetapi bahkan pekerja kerah biru juga bekerja lebih dari 35 jam. Menurut statistik pemerintah Perancis, 50% pekerja penuh waktu mendapat uang lembur pada tahun 2010. Persentase Itu cenderung lebih tinggi pada 2013, kata Perbost. Tentu saja, dibandingkan dengan jam kerja profesi tertentu, beda lagi ceritanya. Ambil contoh pengacara. Menurut Asosiasi pengacara Prancis (CNB), pada tahun 2008, sebanyak 44% dari pengacara di negara itu tercatat bekerja lebih dari 55 jam setiap minggunya. Di Amerika Serikat, survei menunjukkan bahwa banyak pengacara bekerja sekitar 55 hingga 60 jam per minggu untuk memenuhi ketentuan kerja kebanyakan biro hukum.

Tidak hanya Prancis

Bukan hanya Perancis yang menunjukkan bawa hari kerja mingguan yang santai itu lebih merupakan mitos ketimbang kenyataan. Jam kerja profesional di Spanyol juga kontras dengan gambaran populer tentang negara itu.

Pablo Martinez, manajer senior urusan penjualan dan rekayasa di perusahaan multinasional Jerman di Madrid mengatakan, ia mulai kerja pukul 08:00 dan jarang meninggalkan kantor sebelum pukul18:30.

“Spanyol telah berubah agar bisa seiring dengan pasar internasional,” katanya. “Bukan hal yang aneh bahwa orang membungkus makan siangnya untuk disantap di depan komputer mereka -sesuatu yang langka 20 tahun yang lalu ketika saya mulai bekerja.”

Nyatanya, jumlah jam kerja per pekannya di seantero Eropa sebetulnya mirip. Menurut Eurostat, pada tahun 2008, di negara-negara zona euro jam kerja berada di bawah 41 jam per minggu, dengan Perancis sedikit di bawah 40. Rentangnya juga tipis, dengan jam kerja terendah dicatat Norwegia, 39 jam, dan tertinggi adalah Austria dengan 43 jam.

“Jadi hanya patokan 35 jam itulah yang menciptakan gambaran keliru bahwa orang Perancis tidak bekerja terlalu banyak,” kata Olivier. “Gambaran itu melekat dalam pikiran orang. Tapi itu bukan kenyataan yang sesungguhnya. “

Faktor lain yang mungkin menjadi bahan legenda jam kerja pendek: kebanyakan orang hanya menilik pekerja penuh waktu ketika mengambil jam kerja rata-rata per minggu. Padahal di sebagian besar Eropa, banyak orang yang bekerja paruh waktu. Ini merupakan kecenderungan yang berkembang selama setidaknya 15 tahun, dan berkembang lebih jauh lagi akibat krisis keuangan global yang dimulai pada tahun 2008.

Image captionPemogokan merupakan peristiwa tradisioanl bagi para pekerja di Prancis dan bagian selatan Eropa

“Apa yang sudah dilakukan negara dengan tingkat pengangguran yang rendah seperti Belanda, Inggris, Denmark, Swedia dan Jerman adalah, pada dasarnya, menempatkan satu dari empat pekerja pada pekerjaan paruh-waktu,” kata Perbost, penulis studi yang sedang dijkerjakan untuk Green Europe Foundation, sebuah organisasi politik di Brussels yang didanai oleh Parlemen Uni Eropa.

Dia menambahkan bahwa statistik Eurostat tahun 2012 memperkuat kesimpulan itu.

Negara-negara Eropa utara, tempat kerja paruh waktu merupakan hal yang lebih umum, kata Perbost, memiliki jam kerja terendah per minggunya, untuk semua kategori, baik penuh waktu maupun paruh waktu. Menurut data Eurostat tahun 2012, Belanda, Denmark, Swedia, Inggris dan Jerman semua rata-rata menunjukkan jam kerja sekitar 35 jam per minggu. Sementara pekerja Yunani rata-rata bekerja 38 jam, diikuti oleh Spanyol, Portugal dan Italia. Pekerja Perancis, umumnya mencatat sekitar 35 jam rata-rata.

Kalau jam kerja ini dilihat lebih dekat di seluruh Eropa, muncul kecenderungan yang mengejutkan. Bahkan pekerja paruh waktu Prancis bekerja lebih banyak ketimbang sesama pekerja di Eropa.

Jam kerja per pekan para pekerja paruh waktu di Prancis, rata-rata 23,3 jam, sementara sebagian besar negara-negara Uni Eropa lainnya sekitar 20,1 jam, menurut survei tahun 2013 yang dilakukan Dares, tim riset kementerian tenaga kerja Perancis.