Energi Angin … Efektif ?

Turbin Angin di Ardech, Perancis

Lebih dari 100 negara sudah menghasilkan listrik tenaga angin. Selama ini boom energi angin khususnya terjadi di Asia, Amerika Utara dan Eropa Barat. Kini negara-negara di Eropa Timur dan Amerika Latin juga memulainya.

Investasi untuk instalasi pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) pada tahun lalu mencapai 60 milyar Euro. Cina (75 GW) dan Amerika Serikat (60 GW) berada di posisi terdepan dalam bidang energi alternatif ini. Jerman berada di peringkat ketiga dengan 31 GW.

Eropa pada tahun lalu dibangun PLTB baru berkapasitas total 12 GW. Masing-masing 1 GW di Italia, Spanyol, Rumania, Polandia, Swedia dan Perancis. Inggris dan Jerman membangun sarana baru produksi listrik angin masing-masing 2 GW.

Menteri lingkungan Jerman Peter Altmeier mengatakan, pembangunan PLTB pada tahun ini dan tahun depan akan terus ditambah. Ia memperkirakan kenaikan tiga GW di tahun 2013 dan 4,5 GW tahun 2014.

Ada ribuan turbin angin yang beroperasi, dengan kapasitas total 58.982 MW yang 69% berada di Eropa (2005). Dia merupakan cara alternatif penghasilan listrik yang paling tumbuh cepat dan menyediakan tambahan yang berharga bagi stasiun tenaga berskala besar yang berbeban besar. Penghasilan kapasitas listrik diproduksi-angin berlipat empat antara 1999 dan 2005. 90% dari instalasi tenaga angin berada di AS dan Eropa. Pada 2010, Asosiasi Tenaga Angin Dunia mengharapkan 120.000 MW akan terpasang di dunia.

JermanSpanyolAmerika SerikatIndia dan Denmark telah membuat invesatasi terbesar dalam penghasilan listrik dari angin. Denmark terkenal dalam pemroduksian dan penggunaan turbin angin, dengan sebuah komitmen yang dibuat pada 1970-an untuk menghasilkan setengah dari tenaga negara tersebut dengan angin. Denmark menghasil lebih dari 20% listriknya dengan turbin angin, persentase terbesar dan ke-lima terbesar dari penghasilan tenaga angin. Denmark dan Jerman merupakan eksportir terbesar dari turbin besar.

Penggunaan tenaga angin hanya 1% dari total produksi listrik dunia (2005). Jerman merupakan produsen terbesar tenaga angin dengan 32% dari total kapasitas dunia pada 2005; targetnya pada 2010, energi terbarui akan memenuhi 12,5% kebutuhan listrik Jerman. Jerman memiliki 16.000 turbin angin, kebanyakan terletak di utara negara tersebut – termasuk tiga terbesar dunia, dibuat oleh perusahaan Enercon (4,5 MW), Multibrid (5 MW) dan Repower (5 MW). Provinsi Schleswig-Holstein Jerman menghasilkan 25% listriknya dari turbin angin.

Saat ini, London Array adalah ladang angin lepas pantai terbesar di dunia dengan kapasitas mencapai 1000 MW[3], diresmikan oleh perdana menteri Inggris David Cameron pada tanggal 4 Juli 2013[4]

Diharapkan dalam 20 tahun ke depan produksi listrik angin global akan bertambah sepuluh kali lipat. Ini perkiraan sekjen perhimpunan energi angin dunia (WWEA), Stefan Gsänger. Jika kebutuhan listrik global tidak berubah, maka kontribusi suplai listrik tenaga angin mencapai 30 persen di seluruh dunia.

Tenaga angin dari laut masih belum banyak

Pionir pengguna energi angin adalah Denmark. Saat ini 30 persen listrik di Denmark sudah berasal dari tenaga angin. “Integrasi produksi listrik energi angin yang cukup besar ke dalam jaringan listrik, berfungsi dengan baik. Juga karena Denmark mengkombinasikannya dengan pasokan energi panas”, jelas Gsänger.

Teknologi penyimpanan masih akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Tujuannya, agar pasokan listrik tetap stabil, juga di saat tiupan angin melemah. Demikian prediksi Gsänger.

Angin Milik Siapa?

Di Eropa Tengah dan Utara, model taman energi angin milik warga semakin bertambah banyak. Jerman adalah negara dengan taman energi angin terbanyak yang dikelola warga setempat. Bagi Gsänger, keterlibatan warga adalah elemen yang penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya taman energi angin.

“Hasil jajak pendapat menunjukkan, mayoritas warga menganggap turbin angin adalah hal positif dan bahkan ingin lebih banyak membangun kincir ingin. Apalagi warga tahu, bahwa mereka juga yang mendapat keuntungan dari taman energi tersebut,” jelas Gsänger.

Prancis Fokus pada Energi Baru dan Terbarukan

 Prancis mulai meninggalkan ketergantungannya pada energi nuklir dan fokus pada pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Dua jenis EBT yang diminati negara tersebut ialah surya dan air. Prancis mendorong pemanfaatan EBT dengan melihat tren perkembangan dunia yang memprioritaskan EBT sebagai sumber energi utama.
Vice President Research and Development (R&D) Electricite’ de France (EDF), Jacques Sacreste menyebutkan, memudarnya dukungan pada teknologi nuklir baik secara politik maupun sosial mendorong Perancis menoleh pada energi terbarukan terutama surya dan air, dengan menggandeng Start-up Energi Terbarukan di seluruh dunia.
Itu disampaikannya saat menyambut delegasi pemuda Indonesia pemenang kompetisi Youth Forum #15HariCerita Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di EDF Lab Paris-Saclay, Palaiseau, Perancis (19/4). EDF merupakan perusahaan pengusahaan dan penyediaan listrik bagi masyarakat Perancis, semacam PLN yang dimiliki oleh Perancis.
Biaya dan waktu memang menjadi masalah besar bagi industri nuklir Perancis dalam beberapa tahun terakhir. Di negara yang menjadi tempat penemuan radioaktif yang mana industri nuklir telah mempekerjakan 220 ribu orang ini, biaya energi nuklir terus naik karena persyaratan keselamatan yang semakin ketat.
Sacreste mengatakan ketika energi matahari dan angin semakin murah dalam satu dekade belakangan, EDF dengan mantap menggelontorkan 1/3 dari budgetnya untuk R&D khususnya energi terbarukan. EDF juga tak segan berpartner dengan start-up energi terbarukan dari seluruh dunia untuk mendukung riset baru mereka yang saat ini sudah berjumlah sekitar 4.000.
“Ini adalah investasi jangka panjang kunci masa depan dimana Perancis akan mengurangi porsi nuklir dari 75 ke 50 persen. Kami akan terus mencoba dan tidak akan melewatkan kesempatan,”ungkap Secreste .
.
Menurut Sacreste, pengembangan energi terbarukan Perancis akan difokuskan pada energi surya dan air. Teknologi wind-offshore juga menjadi fokus kolaborasi EDF dengan Negara lain di kawasan Uni Eropa. Visi EDF cukup ambisius, menggandakan kapasitas energi terbarukan dari 28 giga watt (GW) menjadi lebih dari 50 GW dalam waktu kurang dari 15 tahun, menjadi pioner penyedia energi terbarukan di kawasan Uni Eropa pada 2030.
Transisi energi telah terjadi di Perancis. Agenda energi Presiden Makron jelas mengenai aspek ini, komitmen untuk energi terbarukan dan penghapusan ketergantungan nuklir secara bertahap. Perancis menargetkan untuk mengurangi pangsa tenaga nuklir dari 75 persen pada saat ini menjadi 50 persen pada tahun 2025. Perlu dicatat bahwa untuk memenuhi target 50 persen nuklir tersebut, lebih dari 25 persen listrik yang saat ini berasal dari nuklir harus diproduksi oleh energi terbarukan pada tahun 2025.
Sebagai konsekuensi, beberapa reaktor nuklir yang operasinya akan berakhir pun perlu mendapat perhatian lebih saat memasuki decommissioning(penurunan tingkat radiasi hingga 5 mSv atau lebih rendah) agar tidak membahayakan pekerja, masyarakat sekitar, maupun lingkungan.

Berikut keuntungan dari energi angin :

KEUNTUNGAN ENERGI ANGIN

1. Energi angin adalah sumber energi terbarukan dan bisa dikatakan sumber energi yang tak pernah habis.

2. Energi dibangkitkan tanpa mencemari lingkungan.

3. Energi angin memiliki potensi yang sangat besar untuk dibuat dalam skala yang besar

4.  Seperti juga energi matahari dan energi air, energi angin memanfaatkan sumber energi yang alami.

5. Listrik dihasilkan oleh energi angin tanpa menimbulkan emisi yang bisa menyebabkan hujan asam atau gas rumah kaca.

6. Pada daerah remote, energi angin dapat digunakan sebagai sumber energi yang besar.

7. Dengan kombinasi bersama energi matahari, maka energi angin dapat menyediakansuplai listrik yang steady dan handal.

8. Turbin angin menggunakan space yang lebih kecil dibanding pembangkit pada umumnya. Umumnya turbin angin hanya menggunakan beberapa meter persegi untk pondasinya, hal ini menyebabkan tanah disekitar turbin masih dapat digunakan untuk keperluan lainnya, misalnya untuk pertanian.


KEKURANGAN ENERGI ANGIN

1. Energi angin memerlukan storageselama peak time untuk menampung energi, jika akan digunakan untuk keperluan di luar peak time.

2.  Sumber energi angin kurang dapat diandalkan untuk ada terus menerusdan tidak mudah diprediksi.

3. Terdapat efek estetika dan permasalahan visual pada wilayah pembangunan turbin angin.

4. Dibutuhkan area yang luas untuk membangun pusat pembangkit listrik tenaga angin.

5. Adanya polusi suara yang dihasilkan oleh energi angin.

6. Energi angin hanya dapat di gunakan pada daerah yang anginnya cukup kuat dan cuaca yang berangin pada sebagian besar waktu.

7. Biasanya,pembangkit listrik tenaga angin dibangun di tempat yang jauh dari sumber beban sehingga memerlukan transmisi yang dengan biaya yang tinggi.

8. Efisiensi rata-rata daro turbin angin sangat kecil jika dibandingkan dengan pembangkit fosil. Dibutuhkan turbin angin yang banyak untuk menghasilkan listrik dengan impact yang sama dengan pembangkit fosil.

9. Turbin angin dapat menjadi ancaman bagi kehidupan liar. Burung dapat terbunuh atau terluka jika terbang ke arah turbin.

10. Cost maintenance dari turbin angin cukup tinggi karena memiliki part yang dapat rusak oleh waktu.